Singapura - Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) mengumumkan perombakan sistem penamaan domain Internet yang semakin berkembang.
Keputusan lembaga nirlaba yang bertanggung jawab atas alokasi Internet Protocol (IP), Domain Name System (DNS) atau mengatur nama domain di Internet, dan fungsi root server system management itu diambil dalam sebuah rapat yang berlangsung di Singapura, Senin lalu.
Akibat perubahan sistem tersebut, setiap orang atau lembaga dapat membuat domain mereka masing-masing, sehingga bermunculan nama domain baru, disesuaikan dengan temanya.
Sebagai contoh, Apple Inc bisa membuat domain ".apple", atau Google dengan ".google". Diperkirakan akan muncul bisa lebih dari 1.000 domain baru, yang terdiri atas merek produk, bank, hotel, komunitas, dan sebagainya.
Sejak Internet lahir pada 1984, beberapa nama domain yang paling dikenal adalah ".com", ".net", ".gov" untuk situs pemerintah, dan ".edu" untuk institusi pendidikan.
ICANN menyatakan, mulai 12 Januari 2012, setiap individu atau kelompok bisa mengajukan aplikasi untuk membuat domain sendiri dan membayar sebesar US$ 185 ribu (sekitar Rp 1,6 miliar).
Pemilik domain juga harus merogoh kocek US$ 25 ribu (Rp 214 juta) setahun untuk biaya langganan. Ongkos itu tentunya lebih mahal ketimbang dana yang harus dikeluarkan untuk "memelihara domain '.com'" yang hanya US$ 10 (Rp 86 ribu) per tahun.
Kelebihan dari sistem penamaan domain baru itu, selain mengedepankan identitas pembuatnya, mampu mengadopsi semua bahasa di dunia, termasuk bahasa Arab atau Cina. "Ini adalah sebuah fase baru untuk Internet," kata Peter Dengate Thrush, Ketua Dewan Direksi ICANN.
Selain nama domain yang sudah umum, seperti ".com", ".net", ".edu", dan ".go" itu, saat ini terdapat 290 negara yang menggunakan domain dengan akhiran tersendiri, misalnya ".jp" untuk Jepang, ".fr" untuk Prancis, ".th" untuk Thailand, dan ".kr" untuk Korea Selatan. Ada pula domain yang dibuat untuk industri tertentu, seperti ".tel" untuk telekomunikasi, dan situs porno dengan ".xxx".
Chief Executive Melbourne IT, Theo Hnarakis, mengatakan perubahan ini memungkinkan perusahaan mengendalikan merek dagang mereka. Namun, dia menyarankan agar ICANN menilik lagi penggunaan domain yang sudah ada.
Di Antartika, misalnya. Ternyata wilayah kutub selatan ini juga memiliki domain dengan nama ".aq". ICANN juga pernah menyetujui nama domain khusus untuk Palestina pada 2000, yakni ".ps" dan Uni Eropa ".eu" pada 2005.
Selain domain yang sudah umum dan biasa ditilik di Internet, ada nama domain yang "mati" atau perlahan-lahan tidak digunakan lagi. Contohnya, ".yu" untuk Yugoslavia dan ".hh" untuk Jerman Timur. Inggris, yang memiliki domain ".gb", ternyata lebih memilih menggunakan ".uk".
Sumber : Tempointeraktif
Pada Selasa lalu, raksasa blog hosting itu mendapati tiga "plug in" sebuah software yang dibuat oleh pihak ketiga yang digunakan bersamaan dengan situs blog. Dari peranti lunak itu ditemukan adanya "backdoor" atau jalan terselubung sebagai akses peretas masuk ke blog.
"Kami masih menyelidiki apa yang terjadi," kata salah seorang pendiri WordPress, Matt Mullenweg, seperti dikutip Telegraph, Jumat, 24 Juni 2011. Untuk mencegah masuknya malware, Mullenweg mengatakan layanan blog itu memutuskan untuk memaksa semua penggunanya me-reset password mereka di WordPress.org.
Dia menyarankan seluruh pengguna WordPress membuat kata kunci baru yang sama sekali berbeda dari sandi sebelumnya. Dia juga meminta supaya tidak menggunakan password yang sama pada beberapa layanan web.
Mullenweg mengatakan tiga plug-in itu adalah AddThis, WPTouch, dan W3 Total Cache. Sayangnya, dia belum mengetahui bagaimana caranya sampai si peretas bisa menyusupkan software jahat ke situs tersebut.
WordPress dikenal sebagai situs hosting blog terbesar di dunia. Aplikasi dari situs yang dirilis pada tahun 2003 itu kini diunduh lebih dari 32 juta kali, baik di iPhone, Android, dan BlackBerry.
Sumber : Tempointeraktif
Recent Comments: